Belajar Membaca Tanpa Mengeja

geralt / Pixabay

Mengenalkan nama-nama huruf lalu merangkainya menjadi  kata ATAU mengenalkan kata-kata, baru anak diberi tahu nama-nama huruf? Kedua cara itu sepertinya sama saja, namun percayakah Anda bahwa keduanya memiliki dampak yang berbeda.

Pernahkah Anda mencoba menyusun puzzle? Faktanya, mengetahui sejak awal gambar utuh dari kepingan puzzle  akan mempermudah kita memecahkan teka-tekinya dibandingkan langsung menyusunnya tanpa melihat gambar akhir.

Ibarat kepingan puzzle, huruf merupakan bagian terkecil sebuah gambar yang tidak bisa diterjemahkan maknanya. Huruf bukan hal menarik bagi anak-anak, kecuali jika mereka menyadari bahwa  itulah yang menjadi elemen penyusun kata yang biasa mereka ucapkan.

Karena huruf tidak bermakna,  ada sejenis beban yang menyertai otak anak ketika mereka diajak untuk mengeja. Anak-anak akan merasa tak punya tujuan. Jika daya tahan mereka belum cukup baik, maka kegiatan mengeja dapat  melumpuhkan minat belajar pada tahap selanjutnya.

Kepada orang dewasa sebenarnya hal ini juga sering terjadi. Saat kita menghadiri sebuah acara dan tidak tahu persis apa manfaatnya bagi kita, secara reflek kita akan meninggalkannya.

Oleh karena itu, belajar membaca tanpa mengeja bukan sebuah konsep asal-asalan tanpa argumentasi ^_^. Belajar membaca tanpa mengeja adalah cara yang sangat ramah anak, agar mereka terbebas dari beban psikologis dalam menjalani proses belajar.